Menanam Sayuran Secara Organik

Pertanian yang berkembang di Indonesia sejalan dengan perkembangan pengetahuan masyarakatnya. Seperti telah kita ketahui bahwa untuk pertama kalinya sistem bercocok tanam yang dilakukan di Indonesia merupakan sistem bercocok tanam secara berpindah-pindah. Ladang-ladang tadinya berasal dari pembukaan hutan ditanami tanaman pokok, seperti padi gogo, talas, ubi kayu, ubi jalar, dan sayur-sayuran.

Tanaman yang ditanam secara ladang berpindah belum mendapatkan perlakuan mehggunakan pupuk kandang atau pemeliharaan lainnya seperti yang dilakukan sekarang ini. Pada awalnya, tanaman tersebut dapat tumbuh subur, namun lama-kelamaan kesuburannya semakin menurun.

Karena produksinya semakin menurun, petani ladang berpindah, kemudian pindah mencari tempat lain. Lalu, membuka hutan lagi untuk dijadikan ladang yang baru. Ladang yang telah ditinggalkan pemiliknya itu akan menjadi tandus, bahkan berubah menjadi padang ilalang.

Selanjutnya, sistem ladang berpindah berkembang menjadi sistem pertanian tradisional. Dikatakan tradisional karena pengelolaannya masih dilakukan secara sederhana. Pengolahan tanah pada sistem pertanian tradisional baru dapat dilakukan pada waktu musim hujan saja.

Tanah tegalan umumnya hanya ditanami satu jenis tanaman yang dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama. Cara seperti itu menimbulkan masalah baru, yaitu berkurangnya kesuburan tanah sehingga hasil panenan dari waktu ke waktu semakin merosot, serta hama dan penyakit berkembang dengan pesat.

Pada tanah yang miring, kesuburannya dengan mudah cepat berkurang karena sering terjadi erosi dan tanahnya belum dibuat terasering. Sebenarnya, pertanian tradisional merupakan pertanian yang akrab lingkungan yang belum menggunakan pestisida dan bahan kimia lainnya.

Namun demikian, produksi yang dihasilkan tidak mampu mengimbangi kebutuhan pangan penduduk yang jumlahnya terus bertambah. Oleh karena itu, untuk mengimbangi kebutuhan pangan ini, perlu diupayakan peningkatan produksi. Maka, dikembangkanlah sistem pertanian konvensional.

Pada pelaksanaannya, sistem pertanian konvensional merupakan sistem pertanian yang menggunakan pupuk buatan pabrik, pestisida sintesis, perangsang tumbuh, antibiotika, dan hal-hal lain yang tujuannya untuk meningkatkan produksi.

Dengan cara ini, produksi dapat ditingkatkan. Namun, di sisi lain, penggunaan produk-produk pabrik yang berbau kimia tersebut menimbulkan masalah baru, yaitu terjadinya pencemaran lingkungan yang dampaknya terasa pada kesehatan manusia.

Di samping itu, pertanian konvensional banyak tergantung pada bahan kimia yang harganya mahal, bahkan kadang-kadang tidak tersedia cukup di pasaran. Ketergantungan itu menyebabkan biaya produksi yang semakin tinggi sehingga tidak sesuai dengan harga jual.

Berbagai masalah yang dihadapi pada sistem pertanian konvensional dapat diselesaikan dengan mengembangkan sistem pertanian baru yang dinamakan sistem pertanian organik.

Pemikiran untuk menerapkan pertanian organik berawal dari kenyataan yang dilihat di alam bahwa hutan alam yang terdiri atas ribuan jenis tanaman dapat hidup dengan suburnya tanpa mengalami campurtangan dari manusia.

Dengan demikian, keadaan hutan dapat memberi makan dan perlindungan dengan temperatur yang sesuai, baik untuk hewan besar maupun kecil, seperti serangga, cendawan, bakteri, atau makhluk hidup lainnya.

Kotoran burung atau hewan lainnya merupakan sumber pupuk alami yang selalu tersedia, sedangkan daun-daunan yang jatuh dari pohon-pohon besar dapat berfungsi sebagai mulsa yang menjaga kelembapan tanah tempat tumbuh tanaman.