Cara Memilih Jenis Tanaman Organik dalam Pola Tanam Polikultur

Dalam pola tanam polikultur, memilih jenis tanaman yang tepat menjadi sangat penting karena tanaman yang tidak sesuai dapat menimbulkan kerugian, salah satu kerugian itu misalnya tanaman akan saling bersaing untuk memeroleh unsur hara. Di samping itu, adanya tanaman jenis lain dapat mendatangkan hama dan penyakit baru, atau dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memilih jenis tanaman dalam pola tanam polikultur antara lain sebagai berikut:

1) Penampilan tanaman dan kebutuhan akan sinar matahari

Tanaman akan hidup baik jika memperoleh sinar matahari. Akan tetapi banyaknya sinar matahari yang dibutuhkan setiap, jenis tanaman berbeda. Umumnya, jenis tanaman yang menghasilkan bunga atau buah membutuhkan sinar matahari penuh atau dengan kata lain tidak boleh ternaungi, sedangkan tanaman yang hanya menghasilkan daun masih dapat tumbuh walaupun cahaya matahari sedikit.

Dalam hal ini yaitu tanaman buncis merambat dan kapri membutuhkan sinar yang banyak, sedangkan selada dan seledri masih dapat hidup di bawah naungan. Dengan demikian, selada atau seledri dapat ditanam di antara tanaman buncis merambat atau kapri.

2) Kebutuhan unsur hara

Dilihat dari kebutuhan unsur hara nitrogen, jenis tanaman sayuran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

a) Jenis tanaman sayuran yang membutuhkan unsur hara nitrogen dalam jumlah yang lebih banyak, misalnya kubis, selada, bayam, jagung, dan labu.

b) Jenis tanaman sayuran yang membutuhkan unsur hara nitrogen lebih .sedikit dibandingkan kalium. Tanaman yang termasuk kelompok ini umumnya jenis-jenis tanaman yang menghasilkan umbi seperti bawang merah, lobak, ubi kayu, wortel, dan ubi jalar.

c) Jenis tanaman sayuran penghasil nitrogen atau jenis tanaman yang dapat mengikat nitrogen dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium.

Jenis tanaman yang termasuk kelompok ini yaitu tanaman yang termasuk keluarga Leguminosae, misalnya kacang tanah, kedelai, buncis, kacang hijau, dan kara.

Dengan menggabungkan ketiga kelompok jenis tanaman tersebut, dapat diperoleh hasil yang tinggi karena antartanaman tidak akan terjadi persaingan ketika mengambil unsur hara di dalam tanah.

3) Sistem perakaran tanaman Sistem perakaran yang terdapat pada setiap jenis tanaman berbeda-beda, ada jenis tanaman yang Sistem perakarannya dalam, dangkal, melebar, rimbun, dan sebagainya. Sistem perakaran ini penting untuk menentukan jarak tanam dan memilih jenis tanaman.

Tanaman yang dipilih sebaiknya yang memiliki perakaran yang berbeda jika akan ditanam berdekatan. Misalnya buncis dan selada, kedelai dan bawang merah, selada dan terung, seledri dan kubis, kubis dan daun bawang, cabai dan daun bawang, serta wortel dan bawang merah.

Macam-Macam Pola Tanam secara Polikultur pada Tanaman Organik

a. Macam-Macam Pola Tanam secara Polikultur Dalam pola tanam secara polikultur, dikenal beberapa istilah yang pengertiannya hampir sama, yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada Iahan yang sama. lstilah-istilah tersebut sebagai berikut :

1) Tumpang gilir, yaitu bercocok tanam sayuran dengan menggunakan lebih dari satu jenis tanaman pada Iahan yang sama, selama satu tahun untuk memperoleh lebih dari satu hasil panen.

2) Tanaman pendamping, yaitu dalam satu bedeng ditanam lebih dari satu jenis tanaman sebagai pendamping jenis tanaman yang Iainnya. Tujuan cara ini, yaitu agar satu sama Iain saling melengkapi dalam kebutuhan flsik dan unsur  hara.

Agar tujuan tercapai, biasanya pemilihan jenis tanaman harus diperhatikan, misalnya tanaman yang perakarannya dalam dapat mengurangi kepadatan tanah dan menambah kesuburan tanah dengan bertambahnya bahan organik sehingga berguna bagi tanama pendamping yang perakarannya dangkal.

Tanaman kenikir sering dijadikan tanaman pendamping karena memiliki perakaran yang mengeluarkan senyawa tiophen yang dapat mematikan nematode.

3) Tanaman campuran, yaitu bercocok tanam dengan menggunakan Iebih dari satu jenis tanaman pada suatu lahan dalam waktu yang sama. Misalnya, menanam tomat dan kubis dalam satu bedeng. Dengan cara ini timbulnya ngengat tritip (Plutela maculipennis) yang merusak kubis dapat dikurangi.

4) Tumpang sari, yaitu bercocok tanam polikultur dengan menggunakan Iebih dari satu jenis tanaman pada suatu lahan dalam waktu yang sama dengan barisan-barisan yang diatur sedemikian rupa sehingga teratur.

5) Penanaman lorong, yaitu bercocok tanam tanaman berusia pendek, misalnya wortel, selada, terung, di antara tanaman yang dapat tumbuh cepat dan tinggi serta berumur panjang (tahunan). Tanaman tahunan yang biasanya ditanam yaitu turi, gamal, kaliandra, lamtoro, dan daun kupu-kupu.

Keuntungan penanaman dengan cara seperti ini yaitu dapat meningkatkan kandungan nitrogen tanah, mengurangi gulma, mencegah erosi, meningkatkan penyerapan air tanah, dan kelembapan tanah.

6) Pergiliran tanaman, yaitu bercocok tanam dengan menggunakan jenis tanaman yang tldak satu famili secara bergantian atau bergilir. Tujuan cara ini yaitu untuk memutuskan siklu hidup hama dan penyakit. Contohnya, kubi famili Cruciferae selada famili Compositae bawang merah famili Alliaceae wortel familiUmbelliferae terung famili Solanaceae kedelai famili Leguminosae jagung famili Graminae kangkung famili Convolvulaceae mentimun famili Cucurbitaceae okra famili Malvaceae.

Macam-macam Pola Tanam Organik

Bercocok tanam sayuran secara organik dapat dilakukan dengan cara monokultur atau polikultur. Dari kedua cara tersebut, cara polikultur merupakan cara yang paling banyak diterapkan karena memiliki banyak kelebihan. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan pola tanam monokultur dan polikultur itu? Untuk mengetahuinya. ikUti penjelasannya berikut ini!

1. Pola Tanam Monokultur

Pola tanam Monokultur adalah cara bertanam dengan menggunakan satu jenis tanaman pada lahan dalam waktu yang sama. Kelebihan pola tanam monokultur, yaitu teknis budi dayanya relatif mudah karena tanaman yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis saja. Sedangkan kelemahannya, yaitu tanaman akan lebih mudah terserang hama maupun penyakit.

2. Pola Tanam Polikultur Pola tanam secara Polikultur, yaitu cara bercocok tanam yang menggunakan lebih dari satu jenis tanaman pada lahan dalam waktu yang sama. Dengan pemilihan jenis tanaman yang tepat, pola tanam polikultur dapat memberikan beberapa keuntungan diantaranya sebagai berikut:

1) Mengurangi hama dan penyakit tanaman. Tanaman yang satu dapat mengurangi hama maupun penyakit tanaman Iainnya. Misalnya, bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau allicin.

2) Dapat menambah kesuburan tanah. Dengan bertanam kacang-kacangan, kandungan unsur N dalam tanah akan bertambah karena adanya bakteri Rhizobium yang terdapat dalam bintil akar. Sedangkan dengan menanam tanaman yang mempunyai perakaran berbeda, misalnya tanaman berakar dangkal yang ditanam secara berdampingan dengan tanaman berakardalam, akan dapat menyebabkan tanah di sekitarnya lebih gembur.

3) Dapat memutuskan siklus hidup hama atau penyakit. Pola tanam polikultur yang dilakukan dengan rotasi tanaman dapat memutus siklus hidup hama dan penyakit tanaman.

4) Dapat diperoleh hasil panen yang beragam. Penanaman tanaman sayuran yang dilakukan lebih dari satujenistanaman akan menghasilkan panen yang beragam. lni menguntungan karena jika harga salah satu komoditas rendah, dapat ditutup oleh harga komoditas Iainnya.

Namun demikian, jika pada pola tanam polikultur jenis tanaman yang dipilih tidak sesuai, dapat mengakibatkan dampak yang negatif, misalnya:

1) Hama dan penyakit yang meyerang tanaman akan semakin banyak sehingga menyulitkan dalam pemeliharaan.

2) Terjadinya persaingan unsur hara di antarajenis tanaman, yang ditanam sehingga pertumbuhan tanaman tidak maksimal.

Beberapa Faktor Iklim yang Menentukan Pertumbuhan Tanaman Organik

c. Hujan

Air sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk melarutkan hara yang terdapat dalam tanah sehingga dapat diangkut oleh akar. Kebutuhan air untuk setiap jenis tanaman jumlahnya berbedabeda. Ada jenis tanaman yang membutuhkan air dalam jumlah banyak, sedang, atau sedikit.

Tanaman kangkung air, genjer, dan selada air membutuhkan air dalam jumlah banyak dan mengalir. Tanaman tomat, terung, cabai, buncis, dan kubis hanya membutuhkan air dalam jumlah yang sedang-sedang saja, tidak tergenang, sedangkan tanaman kangkung darat, katu, dan ubi kayu hanya membutuhkan air dalam jumlah yang sedikit.

d. Kelembapan

Faktor lain yang dibutuhkan tanaman dalam pertumbuhannya, yaitu kelembapan. Kelembapan diperlukan tanaman untuk menunjang pertumbuhannya. Setiap jenis tanaman juga membutuhkan kelembapan yang berbeda-beda.

Namun, umumnya tanaman sayur membutuhkan kelembapan sekitar 80%. Jika kelembapan lebih dari 80%, tanaman dengan mudah dapat terserang penyakit.

e. Angin

Angin dapat menunjang atau merusak Kelangsungan budi daya tanaman. Angin dapat membantu penyerbukan tanaman sehingga kelestarian tanaman dapat terus berlangsung. Keuntungan lain dari angin, yaitu jika banyak angin pada musim hujan, kelembapan akan berkurang sehingga penyakit yang menyerang tanaman pun akan berkurang.

Adapun kerugian dari angin, yaitu dapat membantu penyebaran hama dan penyakit. Adanya angin yang banyak pada musim kemarau dapat mempercepat penguapan sehingga tanaman dapat mengalami kekeringan.

Dengan kenyataan seperti itu, umumnya Iahan untuk budi daya tanaman dipilih yang tidak terlalu banyak angin. Apabila terpaksa menanam di daerah yang banyak angin, upaya yang dapat dilakukan untuk menguranginya dengan menanam pohon pelindung.

Benih Faktor Iainnya yang tak kalah pentingnya dalam budi daya tanaman secara organik, yaitu benih. Benih dapat menentukan kesuburan tanaman. Walaupun faktor-faktor yang lain sudah memenuhi syarat untuk kesuburan tanaman. Namun, jika benih yang kita pilih berkualitas kurang baik, pertumbuhan dan produksi tanaman pun tidak akan sesuai harapan.

Adapun yang dimaksud benih yang berkualitas baik, yaitu benih yang dapat tumbuh berkecambah secara normal. Umumnya, benih yang dapat berkecambah dengan baik, yaitu benih yang berasal dari buah yang telah cukup tua.

Daya kecambah minimal 80%, dan biji harus dalam keadaan kering, bebas, dan tahan hama serta penyakit, serta tidak tercemar oleh bahan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Faktor Iklim Menentukan Pertumbuhan Tanaman Organik

lklim adalah keadaan rata-rata cuaca pada suatu daerah dalam jangka waktu yang lama, kurang lebih sekitar 30 tahunan. Adapun yang dimaksud dengan cuaca adalah keadaan udara yang berhubungan dengan sinar matahari, temperatur, hujan, kelembapan udara, awan, dan kecepatan angin pada suatu tempat tertentu dalam jangka waktu yang terbatas. Keadaan cuaca setiap waktu dapat berubah.

Faktor iklim merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan tanaman.

a. Sinar Matahari

Sinar matahari merupakan faktor yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Sinar matahari seperti kita ketahui dibutuhkan oleh tanaman untuk melakukan proses fotosintesis. Dalam proses fotosintesis yang berlangsung pada beberapa bagian tanaman yang mengandung zat hijau daun (klorofll), air dan karbon dioksida diubah menjadi zat gula (glukosa) dan oksigen melalui bantuan sinar matahari.

Glukosa yang dihasilkan selanjutnya dipergunakan untuk pertumbuhan tanaman sedangkan oksigen dilepaskan ke udara. Tanpa adanya sinar matahari tanaman akan menjadi lemah, pucat, kerdil, dan akhirnya mati. Benih yang baru tumbuh jika kekurangan sinar matahari akan tumbuh memanjang, kurus, dan pucat.

Kebutuhan intensitas sinar matahari untu setiap jenis tanaman berlainan. Ada jenis tanaman yang membutuhkan banyak sinar matahari, seperti tanaman sayur yang menghasilkan bunga atau buah. Ada pula jenis tanaman yang memerlukan sinar matahari dalam intensitas yang sedikit atau cukup saja, seperti tanaman sayur yang menghasilkan daun.

b. Suhu (Temperatur) Di samping sinar matahari, setiap tanaman juga membutuhkan keadaan suhu yang berbeda-beda untuk memeroleh pertumbuhan dan produksi yang optimal. Tanaman kacang panjang, ubi kayu, dan jagung akan tumbuh baik di daerah yang bersuhu tinggi atau panas, sedangkan kentang, wortel, buncis, kubis, dan sawi akan tumbuh dengan baik jika ditanam di daerah dengan keadaan suhu yang rendah atau dingin.

Jika suatu jenis tanaman ditanam di daerah dengan suhu yang tidak sesuai untuk pertumbuhannya, produksi tanaman umumnya berkurang atau tidak optimal. Sebagai contoh, tanaman wortel yang ditanam di daerah bersuhu panas akan menghasilkan umbi yang kecil-kecil.

Faktor Biologis (Hayati) Tanah yang Mempengaruhi Tanaman Organik

Keadaan tanah yang baik dan produktif untuk dijadikan tanah pertanian adalah tanah yang banyak mengandung bahan organik dan jasad hidup baik yang berukuran kecil (mikro) maupun yang berukuran besar (makro).

Hal ini dikarenakan bahan organik yang terdapat di dalam tanah itu nantinya akan dihancurkan oleh jasad hidup yang terdapat di tanah menjadi bahan organik yang halus dan dapat diserap oleh akar tanaman.

Contoh bahan organik yang telah mati, antara lain daun yang telah rontok, jerami, sekam, batang pisang, batang jagung, ampas tebu, molase, humus, bangkai binatang, pupuk kandang, kotoran binatang, limbah binatang, maupun air septic tank.

Adapun jasad hidup yang sering ditemukan di dalam tanah misalnya bakteri, cendawan, ganggang, protozoa, amoeba, semut, rayap, uret, dan cacing.

Tahukah kamu mengapa tanah yang ditumbuh tanaman Leguminosae (kacang-kacangan) pada umumnya subur? Hal ini disebabkan pada akar tanaman Leguminosae terdapat bintil yang penu dengan bakteri Rhizobium. Bakteri Rhizobium in dapat mengikat nitrogen dari udara untuk dijadikan protein.

Bintil akar yang aktif pada tanaman Leguminosa ini kelihatan berwarna kemerahan atau pink karena adanya pigmen hemoglobin pada bakteri Rhizobium. Bagaimana caranya agar pada tana tersedia bakteri Rhizobium? Ada due care yang dapat dilakukan, yaitu:

1) Pada tanah yang akan ditanami sayuran, ditabun’ biji yang telah dicampur dengan bakteri Rhizobium mumi. Bakteri tersebut banyak dijual di toko pertam’an dengan nama Legin, singkatan dari Leguminosae inokulum. Bakteri bintil akar ini dapat hidup bertahun-tahun dalam tanah walaupun tidak ada tanaman Leguminosae.

2) Pada tanah yang akan ditanami sayura ditaburi tanah bekas tanaman Leguminosa yang banyak bintil akarnya. Agar dapat mengikat nitrogen cukup banyak, bakteri Rhizobium membutuhkan kapur, fosfat. (alium, dan molibdin).

Jika tanah dipupuk dengan pupuk N, pertumbuhan tanaman akan baik, tetapi daya bakteri Rhizobium dalam mengikat nitrogen dari udara akan berkurang.

Usaha-Usaha untuk Meningkatkan Kesuburan Tanaman dalam Bercocok Tanam secara Organik

Faktor Kimia Tanah

Tanaman untuk dapat hidup dengan subur membutuhkan unsur kimia. Unsur kimia yang diperlukan tanaman disebut unsur hara. Kebutuhan unsur hara setiap jenis tanaman berbeda-beda.

Unsur hara yang dibutuhkan tanaman dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak atau disebut juga unsur makro, dan unsur yang dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit atau unsur mikro.

Unsur hara makro antara lain, nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Adapun yang tergolong unsur hara mikro, antara lain, kalsium (Ca), magnesium (Mg), belerang (S), besi (Fe), tembaga (Cu), seng (Zn), mangan (Mn), boron (B), molibdin (Mo), klor (CI), kobalt (Co), dan silisium (Si).

Unsur hara di dalam tanah umumnya terdapat dalam jumlah yang terbatas. Penambahan unsur hara dapat dilakukan dengan cara pemberian pupuk organik, seperti pupuk kandang atau kompos.

Penyerapan unsur hara oleh tanaman tergantung pada derajat keasaman tanah yang lazim disebut pH. Untuk menentukan keadaan pH tanah, dapat digunakan pH meter’atau ‘kertas pH. Untuk memudahkan pengukuran, dapat digunakan tabel daftar skala reaksi tanah seperti yang diperlihatkan berikut ini.

Pada tanah yang keadaan pH-nya berbeda, ketersediaan unsur hara pun berbeda. Tanah yang keadaan pH-nya asam, banyak mengandung unsur besi, tembaga, mangan, dan aluminium yang like tersedia dalam jumlah banyak dapat meracuni tanah. Sedangkan pH tanah rendah dan tinggi, unsur fosfor banyak terikat pada komponen tanah sehingga sulit diserap oleh akar.

Keadaan tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman berada di sekitar pH 6,5. Jasad renik dalam tanah hidup subur pada pH tanah netral sampai sedikit asam. Tanah di Indonesia umumnya asam atau ber-pH rendah. Keadaan tanah yang asam tersebut perlu dilakukan penetralan. Penetralan tanah dapat dilakukan dengan memberi kapur pertanian (dolomit) atau kapur bangunan yang telah mati (tidak panas). Kebutuhan kapur pertanian untuk menetralkan tanah dapat dilihat pada tabel yang disajikan berikut ini.

Di samping itu dalam bercocok tanam secara organik, kita perlu mengetahui pula kesesuaian jenis t-anaman sayuran dengan keadaan pH tanah.

Jenis-Jenis Sayuran yang Subur Ditanam secara Organik

Sebelum kita mulai bertanam secara organik, yang perlu kita ketahui yaitu jenis tanaman yang akan ditanam secara organik serta cara maupun upaya untuk meningkatkan kesuburan tanaman.

A. Jenis-Jenis Sayuran yang Ditanam secara Organik

Sebenarnya, semua tanaman, baik itu tanaman sayuran, buah-buahan, maupun tanaman hias, dapat diupayakan dengan cara tanam secara organik. Hal ini disebabkan pada mulanya tanaman dapat tumbuh dengan subur secara alami tanpa tambahan pemupukan dari luar seperti yang terjadi di hutan.

Akan tetapi, karena ada beberapa jenis tanaman yang sering terserang oleh hama dan penyakit. pemeliharaannya perlu dilakukan secara intensif. Disamping itu, jika bertanam secara organik bertujuan untuk bisnis, perlu dipertimbangkan beberapa jenis tanaman yang memang laku di pasaran, seperti cabai, tomat, bawang merah, wortel, dan selada.

B. Usaha-Usaha untuk Meningkatkan Kesuburan Tanaman dalam Bercocok Tanam secara Organik

Dalam bercocok tanam jenis tanaman apapun, faktor kesuburan tanaman merupakan faktor yang penting untuk diketahui. Subur tidaknya tanaman ditentukan ‘oleh beberapa faktor, antara lain kesuburan tanah, iklim, hama, dan penyakit, serta baik tidaknya benih yang digunakan.

1. Faktor Kesuburan Tanah

Faktor kesuburan tanah dapat ditentukan dengan cara melihat keadaan fusik, kimia, maupun biologi tanah.

a. Faktor Fisik Tanah

Untuk menentukan subur tidaknya tanah secara fusik, dapat dilihat dari keadaannya yang gembur. Agar tanah menjadi gembur, perlu dilakukan pembalikan tanah, baik dengan pencangkulan maupun pembajakan. Manfaat dari pembalikan tanah yaitu:

1) Memungkinkan terjadinya pertukaran udara atau aerasi di dalam tanah sehingga gas yang bersifat racun dapat menguap dan digantikan dengan oksigen;

2) Dengan tersedianya oksigen yang cukup di dalam tanah, jasad renik aerob dapat berkembang dengan baik sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Jasad renik yang hidup di dalam tanah antara lain bakteri Rhizobium, Azotobacter, dan Nitrobacter.

3) Pada tanah yang gembur, air dengan mudah dapat meresap sehingga tanah tidak mudah digenangi air dan kelembapan air tanah berkurang dan;

4) Bibit penyakit, hama, dan gulma yang hidup di permukaan tanah akan mati karena terkena sinar matahari, cangkul atau bajak. Selain pembalikan agar selalu gembur, tanah perlu diberi pupuk organik dan pasir. Tanah yang sudah gembur sangat mudah untuk ditanami, disiangi, dan dipupuk.

Demikian pula akar tanaman dalam pertumbuhannya dengan mudah dapat menembus tanah dan’menyerap unsur hara. Pada saat musim kemarau, tanah bagian atas yang gembur dapat berperan sebagai mulsa sehingga mengurangi terjadinya penguapan air tanah yang berlebihan.

Kekurangan dan Kelebihan Sistem Pertanian Organik

Pada pengembangan Sistem budi daya apa pun, tentunya terdapat kekurangan maupun kelebihan jika diperbandingkan dengan Sistem budi daya sebelumnya. Demikian pula budi daya tanaman dengan menggunakan Sistem pertanian organik memiliki kekurangan dan kelebihan jika dibandingkan dengan Sistem pertanian nonorganik yang diterapkan pada sistem pertanian konvensional.

1. Kekurangan Sistem Pertanlan Organik Beberapa kekurangan atau kelemahan yang terdapat pada sistem pertanian organik, antara Iain sebagai berikut

a. Menyerap tenaga kerja yang lebih banyak, terutama untuk pengendalian hama dan penyakit. Karena pengendalian hama dan penyakit masih dilakukan secara manual. Jika memakai pestisida alami, perlu dibuat sendiri karena pestisida ini belum tersedia di pasaran.

Tanaman yang dihasilkan dari sitem pertanian organik umumnya kurang bagus karena berukuran lebih kecil dan daun berlubanglubang jika. dibandingkan dengan tanaman yang dipelihara secara nonorganik.

Kelebihan Sistem Pertanian Organik Namun demikian, di samping ada kekurangan atau kelemahannya, sistem pertanian organik juga memiliki beberapa kelebihan. Beberapa kelebihannya, antara Iain: a. Tanaman yang dihasilkan pertanian organik memiliki rasa yang Iebih manisjika dibandingkan dengan tanaman nonorganik.

b. Hasil tanaman pertanian organik harga jualnya lebih mahal.

Pada pelaksanaannya sistem pertanian organik sama sekali tidak memakai pupuk maupu pestisida dari bahan kimia sehingga tida menimbulkan kerusakan pada lingkungan, bai pencemaran tanah, air, maupun udara, da hasil yang diperoleh tidak mengandung bahan kimia beracun.

Untuk pertama kalinya, sistem pertanian organik di Indonesia dilakukan pada tahun 1984 oleh Yayasan Bina Sarana Bakti. Pengembangannya ‘ dilakukan di daerah Cisarua, Bogor, pada lahan seluas 4 hektare. Berawal dari pengembangan di Cisarua inilah, banyak orang mengikuti kursus untuk mempelajan’ sistem pertanian organik yang kemudian mereka kembangkan sendiri di daerahnya masing-masing.

Memahami Sistem Pertanian Organik

Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan sistem pertanian organik?

Cara bercocok tanam yang mirip dengan kelangsungan hidup tanaman yang berada di hutan dinamakan sistem pertanian organik. Karena kesuburan tanaman yang ditanam dengan sistem organik berasal dari bahan-bahan organik yang dibuat secara alami. Pengertian lain dari sistem pertanian organik, yaitu sistem pertanian yang penerapannya tidak memakai bahan kimia, tetapi menggunakan ‘bahan-bahan yang bersifat organik.

Dengan demikian, prinsip sistem pertanian organik, yaitu sistem pertanian yang berwawasan lingkungan karena tidak menimbulkan masalah pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup.

Agar tujuan sistem bercocok tanam secara organik ini dapat tercapai, harus diupayakan beberapa cara sebagai berikut

1. Penggunaan pupuk hijau harus dilakukan dengan orok-orok (Crota/ariajuncea), Tephrosia Candida, Tephrosia voge/i, atau batang, akar, dan daun kacang-kacangan, turi;

2. Penggunaan pupuk lainnya dilakukan dengan kompos, pupuk kandang, atau guano;

3. Penggunaan pupuk harus dilakukan dengan limbah yang berasal dari kandang ternak, pemotongan hewan (RPH), atau septic tank;

4. Diupayakan pelestarian terhadap tempat hidup tanaman dengan cara pola tanam polikultur. Pada sistem pertanian konvensional, untuk tujuan menyuburkan tanah dan memberantas hama serta penyakit, hampir sebagian besar menggunakan bahan kimia. Pada sistem pertanian organik, kedua macam kegiatan tersebut tidak dilakukan dengan bahan kimia, tetapi menggunakan bahan-bahan organik yang didapat dengan mudah dari alam.

Di samping penggunaan pupuk kandang, pertanian organik juga memanfaatkan tanaman yang termasuk famili Leguminosae, misalnya kacang-kacangan, yang mempunyai bintil akar yang dapat menambah nitrogen dari udara dan kemudian mengubahnya menjadi nitrogen yang dapat diserap oleh tanaman.

Untuk pemberantasan hama dan penyakit tanaman, Sistem pertanian organik menggunakan pestisida organik yang sering disebut pestisida nabat. Tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida organik, antara lain, nimba, tembakau, ‘brotowali, awar-awar, gadung, kelor, mindi, ketepeng kebo, mengkudu, mahoni, tuba tephrosia, pepaya, johar, buah lerak, sirsak, srikaya, dan jarak kepya.

Pestisida organik dengan mudah dapat dibuat sendiri. Keuntungan dari pestisida organik, yaitu tidak mencemari udara, tidak berbahaya, tidak meracuni konsumen karena cepat terurai, dan tanamannya mudah diperoleh, serta dapat ditanam sendiri.