Bertanam Organik Buah Naga Secara Tabulampot

Selain menghasilkan buah yang mengandung banyak khasiat, tanaman buah naga juga unik jika dijadikan tanaman hias. Jadi, selain dibudidayakan untuk diambil buahnya, tanaman buah naga dapat dikembangkan untuk dijual sebagai tanaman hias.

Tanaman buah naga yang ditanam sebagai tanaman hias akan memperindah halaman rumah. Bagi yang tidak memiliki halaman rumah yang luas, tidak perlu khawatir. Tanaman buah naga tetap dapat menghiasi rumah dengan cara ditanam di dalam pot atau sebagai tabulampot (tanaman buah dalam pot).

Cara membuat tabulampot buah naga sebagai berikut:

1. Mempersiapkan bahan dan alat.

Bahan dan alat yang diperlukan:

a. bibit tanaman buah naga,

b. media tanam berupa campuran tanah, pasir, bubuk bata merah, pupuk kandang dan kompos dan dolomit, pot, besi untuk tiang panjatan, alat-alat untuk berkebun.

2. Langkah pembuatan tambulampot:

Langkah pertama adalah memilih pot. Pilih pot dari tanah liat. Alasannya, karena tanah liat mudah menyerap air (porous). Ukuran diameter pot sekitar 40-50 cm. Selain itu, sediakan tiang panjatan. Untuk tiang panjatan, pilih yang kuat dari besi beton berdiameter 8-10 cm.

Buatlah tiang setinggi 200 cm. Seluruh tiang panjatan diberi sabut kelapa yang diikatkan. Pada bagian bawah tiang dibuatkan kaki-kaki tiang. Panjang kaki tiang sekitar 35 cm, dan dibentuk trapesium dengan ukuran 30 cm.

Setelah itu, pulas dengan aspal agar tidak gampang keropos. Bagian 3% – 22% tiang dibuat diaingan dengan meter 40 cm.

Pada bagian tengah piringan diberi besi yang dipasang bersilang. Pada pertemuan silangan, beri besi tegak lurus Sepanjang 30 cm, yang nantinya dimasukkan pada bagian ujung tiang.

Langkah selanjutnya adalah menyiapkan media tanam. Media tanam yang digunakan berupa campuran tanah, pasir, bubuk batu bata merah, pupuk kandang, dan kompos dengan perbandingan 1 : 2 : 2 : 3 : 1. Campur media dengan merata dan masukkan ke dalam pot hingga 80% volumenya. Tambahkan dolomit 100 gr/pot dan pupuk Hortigo 20 gr/pot. Siram sampai basah dan biarkan semalam.

Selanjutnya menyiapkan bibit. Sebaiknya, beli bibit dari penangkar tanaman buah naga sehingga kualitasnya terjamin. Pilih bibit setek batang yang panjangnya 60 cm dan diameternya 7 cm. Setelah itu, buat 3 lubang tanam dalam pot dengan kedalaman 10 cm dan diameter 6 cm.

Tanam bibit dalam lubang tersebut. Setelah ditanam, tekan media di sekitar bibit agar padat. Ikat bibit agar tidak mudah roboh. Basahi permukaan media dengan sedikit air. Usahakan agar jangan sampai air menggenangi pangkal batang. Pangkal batang yang terkena air akan membusuk.

Langkah terakhir, letakkan pot yang telah ditanami tanaman buah naga di lokasi yang mendapat sinar matahari penuh, terutama pada pagi hari. Tanaman buah naga akan tumbuh dengan baik, dapat dinikmati keindahannya dan tentu saja buahnya.

Pestisida Organik dalam Buku Natural Crop Protection

Dalam buku Natural Crop Protection, diulas beberapa pestisida organik yang dapat digunakan dalam pertanian organik, seperti urin sapi, korotan sapi, dan abu kayu. Selain itu, juga diulas mengenai cara menangkap ulat tanah dan lalat buah.

1. Urin Sapi

Urin sapi dapat dipergunakan untuk mengendalikan hama serta penyakit yang disebabkan cendawan dan virus. Urin sapi dikumpulkan dalam suatu bak terbuka dan dibiarkan selama 2 minggu terkena sinar matahari.

Secara umum, pada waktu akan disemprotkan, urin diencerkan dengan air, perbandingannya 1:6. ‘ untuk sayuran, konsentrasi yang terlalu tinggi dapat menyebabkan daun terbakar. Perbandingan yang tepat biasanya akan diperoleh setelah perpengalaman. Contoh dosis lainnya, yaitu sebagai pedkut a. Perbandingan 2 bagian air: 1 bagian urin dapat mengaki-batkan aphid mati :I: 60%, dan ulat tomat (Heliothis armigera) mati i 10%.

b. Bila urin tidak diencerkan, aphid yang mati i 95%, ulat mati .t 67%, dan laba-laba (Tetranychus bimaculatus) 2′: 83%. Karena bila tidak diencerkan dapat merusak tanaman, sebaiknya urin diencerkan dengan perbandingan 1:1.

0. Urin yang ditambah dengan kunyit, nimba, dan tembakau dapat digunakan untuk mencegah virus mosaik bila disemprotkan 2-3 kali setiap minggu.

2. Kotoran Sapi

Kotoran sapi kering i 3 genggam besar dapat dicampur dengan 10 liter air dan setiap hari diaduk selama 14 hari. Untuk mengurangi bau, dapat ditambah tepung tanah Iiat atau tepung batu serta mineral-mineral. Sesudah :I: 2 minggu, cairan kotoran sapi dapat diencerkan dengan air 3 5 k3″ kemudian dapat disemprotkan pada tanaman untuk mencegah kerusakan (gangguan) dari binatang dan dapat berfungsi sebagai pupuk.

3. Abu Kayu Ada empat macam ramuan yang menggunakan abu kayu, yaitu sebagai berikut:

a. Setengah cangkir abu kayu, setengah cangkir kapur, dan 4 liter air dicampur sampai merata, lalu didiamkan beberapa jam. Setelah itu, disaring dan dapat disemprotkan untuk mengendalikan kumbang mentimun atau larvanya.

b. Enam sendok minyak tanah dicampur dengan 1 kg abu kayu dapat digunakan untuk mencegah serangga pengisap. Caranya dengan menaburkan campuran tersebut pada pagi hari seminggu dua kali. Sebaiknya jangan mengunakan abu dari sabut atau tempurung kelapa karena dapat merusak daun.

Abu kayu juga efektif mengendalikan cendawan, seperti busuk daun, jamur tepung dan jamur karat. Caranya, 1 sendok makan penuh abu kayu dimasukkan dalam 1 1 air dan diaduk, kemudian dibiarkan semalam.

Esoknya, campuran tersebut disaring dan dicampur dengan sour milk atau butter milk. Sebelum disemprotkan, Iarutan ini diencerkan 3 kali dengan air. Namun, alangkah baiknya bila keefektifan Iarutan dicobakan pada beberapa tanaman. d. Abu kayu yang ditaburkan atau dilarutkan dahulu dapat juga digunakan untuk mengendalikan larva terowongan daun.

4. Umpan Ulat Tanah

Ulat tanah yang banyak menyerang tanaman dapat dikendalikan dengan campuran serbuk gergaji, sekam, dan molase (tetes) dengan perbandingan yang sama, Ialu diberi air sehingga menjadi campuran yang lengket.

Campuran tersebut pada waktu senja diletakkan di daerah yang banyak diserang ulat tanah. Molase akan mengundang u|at tanah. Ulat tanah yang Iewat akan lengket pada campuran molase. Ulat tidak dapat bergerak dan molase akan mengeras. Pada pagi hari, ulat akan mati terkena sinar matahari.

5. Perangkap Lalat Buah

Lalat buah banyak menyerang tanaman sayur yang menghasilkan buah. Lalat buah tersebut dapat ditangkap dengan memasang alat perangkap.

Aiat tersebut berupa botol minuman minerala muiutnya dibaiik. Di dalamnya diberi Cairannya dapat merangsang ialat buah masuk ke dalam botol Cairan tersebut diperoleh dari kulit jeruk atau kulit daging mentimun, ditambah 100 cc urin dan 500 cc air yang teiah tercampur rata dan didiamkan semaiam, ialu diencerkan dengan 15 1iter air.

Cara Penggunaan Pestisida Organik

Bertanam secara organik sangat erat hubungannya dengan pestisida organik.

Karena pestisida non-organik (kimia) sama sekali tidak boleh digunakan dalam bertanam secara organik. Berikut ini diberikan beberapa contoh pestisida organik yang sering digunakan oleh para petani yang melakukan cara tanam secara organik.

A. Pestisida Organik Yosomiharjo

Sejak tahun 1994 sampai sekarang, Yosomiharjo menanam sayuran organik di desa Tlompakan, Kec. Tuntang, Kab. Semarang. Berdasarkan pengalaman, Yosomiharjo membuat pestisida organik sendiri. Pada dasarnya, pestisida organik tersebut dibuat dari ekstrak daun-daunan, terutama yang pahit direndam dalam air, |a|u disemprotkan. Cairan tersebut juga dapat berfungsi sebagai pupuk daun. Ada tiga ramuan yang diguhakan Yosomiharjo ialah sebagai berikut:

1. Ramuan A

Bahan-bahan pada tabél berikut tidak harus ada semua, tetapi semakin banyak bahannya, semakin baik hasilnya.

Bahan-bahan tersebut kemudian direndam dalam drum ukuran 200 liter dengan air 1: 100 liter, lalu ditambah garam :1: 0,05 kg, kapur :1: 1 kg, dan pupuk kandang :I: 5 kg. Semua bahan tersebut diaduk merata, lalu dibiarkan selama 2-4 minggu, Bila akan digunakan, ambil 1 liter cairan rendaman tersebut, lalu disaring dan dicampur (diencerkan) dengan 9 liter air.

2. Ramuan B

‘Kunyit sebanyak 1 kg diparut (diblender), dimasukkan dalam 10 liter air, lalu didiamkan beberapa minggu. Bahan ini kemudian dicampur dengan ramuan A dengan perbandingan 1:2. Bila akan digunakan, campuran tersebut diencerkan dengan perbandingan 1 bagian air bahan : 5 bagian air bersih, kemudian disemprotkan. Ramuan ini dapat berfungsi sebagai insektisida, fungisida, maupun sebagai pupuk daun.

3. Ramuan C

Bubur tepung belerang sebanyak 100 9 ditambah 100 g bubur kapur direbus dalam 2 liter air. Kemudian, bahan disaring dan cairannya dicampur dengan 1 liter ramuan B, 2 liter ramuan A, den 5 liter air bersih. Ramuan ini dapat dipergunakan untuk menghalau tikus, walangsangit, belalang, kumbang kayu, lalat, dan Iain-lain.

Pisang yang terserang penyakit layu dapat diberi campuran ramuan A, B, dan C serta ditambah tepung belerang (bubur belerang). Pemberiannya Iewat bonggol (pangkal) pisang yang telah dilubangi. Dengan pemberian ini, anakan pisang akan sehat, tidak terserang penyakit lagi.

Pengendalian Penyakit Terung Organik Hingga Pemanenan

Busuk buah

Ada beberapa macam cendawan yang menyebabkan penyakit ini, yaitu Phomopsisi vexans (8300. et syd), Phytophthora nicotialae var. parasitica (Dast.) Water., P. melongenae Saw., dan tyhium aphanidermatum (Edson) Fitzn.

Serangan Phomophsis vexans tidak hanya buah saja, tetapi abang, ranting, dan daun juga diserang. Pada daun, permukaannya kelihatan ada bercak bulat telur yang warnanya cokelat, an makin lama makin besar dan tidak beraturan.

Serangan pada semai akan menyebabkan roboh (dumping off). Bila buah yang diserang, buah akan kelihatan bercak kecil cokelat muda, lalu membesar sehingga buah menjadi busuk, dan akhirnya rontok.

Serangan P. nicotianae var. parasitica ditandai dengan bercak memanjang sepanjang buah terung, berwarna cokelat sampai hitam. Bagian dalam buah berwarna cokelat kebasahan. Kemudian, buah terung menjadi busuk dan rontok.

Gejala serangan Pythium aphanidermatum yaitu buah menjadi busuk, terlebih buah yang di dekat tanah. Pada cuaca lembap, tumbuh miselium jamur yang kelihatan seperti kapas sehingga sering disebut sebagai cottony leak.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1) Jika ada bercak kecil, buah segera dipanen dan dikonsumsi.

2) Sesudah panen yang pertama, tanah Segera dipupuk lagi dengan pupuk organik.

3) Tanamlah terung yang resisten terhadap

4) Dilakukan rotasi tanaman.

5) Tanaman yang telah terserang hebat sebaiknya dibakar.

6. Cara Panen Terung

Tanaman terung mulai berbunga umur i 2 bulan dan buah dipanen sekitar umur 3 4 bulan. Oleh karena buah tidak matang bersamaan maka panen dapat dilakukan 2 kali seminggu. Panen dilakukan pada saat buah berukuran maksimal, tetapi belum tua.

Buah yang tua mempunyai rasa yang kurang enak, biji sudah mulai keras, dan kulit liat. Panen yang baik waktu pagi hari atau sore hari sebelum matahari terbenam. Adapun buah yang dipanen sebaiknya disertakan juga tangkai buahnya. Tangkai tersebut dipotong lurus agar tidak melukai buah terung.

8. Penanganan Pascapanen

Setelah panen, buah terung dibawa ke tempat yang teduh, kering dan sejuk. Kemudian dilakukan sortasi untuk memisahkan buah yang sakit dan abnormal dengan buah yang sehat. Buah yang sehat dibedakan lagi berdasarkan bentuk, wama buah, ukuran panjang, dan beratnya untuk menentukan tujuan pasar.

Pengendalian Hama dan Penyakit Terung Organik

Cendawan tepung

Penyakit ini disebabkan oleh Eiysiphe polygoni DC. Serangannya ditandai dengan terlihatnya tepung putih pada daun. Serangan semakin hebat pada waktu musim kemarau. Jika banyak angin, tepung-tepung yang merupakan konidium tersebut akan berhamburan dan berkecambah di tempat lain.

Pengendalian yang dapat dilakukan agar penyakit tidak meluas yaitu dengan mengembuskan tepung belerang atau menyemprotkan bubur kalifornia.

Penyakit layu cendawan

Penyebab penyakit ini yaitu cendawan Fusarium oxysporum f. melongenae Matua et Ishigami. Gejala serangan ditandai masih segarnya tanaman terung pada pagi maupun malam hari, tetapi pada siang hari mulai layu.

Keadaan ini berlangsung beberapa hari saja dan akhirnya tanaman mati. Kalau dibiarkan, pangkal kan membusuk dan kadang-kadang p. Jika dipotong melintang atau dan raya . (maka an kelihatan berwama memanjang, batang a cokelat tua penyakit layu mulai dapat dikendalikan dengan cara berikut.

1) Ditanam terung hasil sambungan dengan batang terung yang tahan layu, misalnya cepokak atau terung engkol.

2). Menanam terung yang tahan layu, misalnya terung putih, terung gelatik (bulat kecil).

3) ‘Tanaman yang kelihatan sakit segera dicabut dan dibakar. Tanah bekas tanaman sakit jangan tersebar kemana-mana nanti akan menular.

4) Dilakukan rotasi tanaman.

5) Kegiatan penyiangan dan pemupukan organik  dilakukan hati-hati agar tidak merusak perakaran.

6) Dilakukan solarisasi.

1 Caranya, tanah yang telah tercemar penyakit ditutup dengan plastik transparan 1-1 bulan aga sinar matahari masuk dalam tanah. Dengan demikian tanah menjadi panas sehingga bibit penyakit akan mati.

i) Penyakit layu bakteri

Penyakit Iayu disebabkan oleh bakteri pseudomonas sola-nacearum S.F.Sm. Gejala serangannya hampir sama dengan penyakit layu karena cendawan. Perbedaannya ialah batang yang sakit jika dipotong melintang akan keluar lendir berwarna putih krem.

Keluarnya lendir ini semakin jelas bila potongan batang dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air jemih. Penyakit ini tidak bisa diobati dan bisa tahan bertahun-tahun di dalam tanah. Pengendalian yang dapat dilakukan sama dengan pengendalian untuk penyakit layu cendawan.

Langkah-langkah Pengendalian Hama dan Penyakit Terung Organik

d. Engkis-engkis atau penggerek batang (Dihammus fistulatory Germ. sin. D. rusticator Fab.)

Engkis-engkis ini sering menyerang tanaman yang telah dewasa atau telah berkayu dan berbuah. Cabang atau batang pokok tanaman terlihat layu. Bila diamati, ada lubang yang di luarnya ada kotoran butir-butir kayu bekas geretan.

Dari lubang keluar larva yang warna putih dengan kepala cokelat tua dan tidak berkaki. Pupa yang berwarna cokelat muda juga terdapat di dalam lubang pada cabang atau batang. Kumbang engkis-engkis berwarna abuabu kecokelatan, panjang antena melebihi panjang badan, dan panjang badan i 2 2,5 cm.

Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan cara di bawah lubang yang terserang dipotong dan dibelah. Larva, pupa, atau engkis-engkis yang keluar dimatikan. Setelah dipotong, batang tanaman masih bisa keluar tunas baru. Namun, jika serangannya di pangkal batang, kemungkinan tanaman mati sangat besan.

e. Tungau merah (Tetranychus te/arius (Linn) sin T. urticae Koch., T. bimacu/atus)

Tungau ini berukuran kecil, < 0.5 mm, dan berbercak merah. Tungau bersembunyi dibalik daun dan membuat sarang Iaba-laba. Cara hidup tungau dengan mengisap cairan sel tanaman_ Umumnya, serangan hebat terjadi pada waktu musim kemarau, udara panas dan kering.

Gejala serangan ditandai dengan bintik-bintik merah karat atau merah perunggu pada daun, baik di permukaan atas maupun permukaan bawah, Serangan yang hebat dapat menyebabkan daun layu dan rontok.

Pengendalian yang dilakukan agar serangan tungau tidak meluas yaitu secara alami menggunakan thrips Scolothrips sexmaculatus, tungau Ohytoseiulus persimilis, kumbang Stethorus gilvi-frons, dan cendawan Entomophthora fresenii. Adanya hujan lebat dalam waktu lama atau siraman air bisa merontokkan tungau.

f. Antraknosa buah Penyakit antraknosa buah disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporioides var. melongenae. Buah yang terserang penyakit ini terdapat bercak bulat, cekung, berwarna cokelat dengan titik hitam.

Bila jumlahnya banyak, bercak akan membesar dan bersatu menjadi bercak yang Iebih besar yang bentuknya tidak teratur. Bila bercaknya telah meluas, buah akan rontok. Cara pengendalian penyakit antraknosa seperti pengendalian pada penyakit busuk buah.

Cara Pengendalian Hama dan Penyakit Terung Organik

Pada saat melakukan kegiatan pemeliharaan, kesehatan tanaman juga harus diamati sehingga adanya hama atau penyakit dapat diketahui lebih dini. . ‘ a. Kumbang daun hitam kehijauan (Epitrix parvula F.)

Serangan kumbang ini dapat menyebabkan daun berlubang kecil-kecil sehingga kelihatan seperti saringan berwama putih kelabu. Akibatnya tanaman semai menjadi kerdil dan bunga banyak yang berguguran pada tanaman dewasa sehingga produksi berkurang.

Kutu daun ini dapat dikendalikan dengan cara mekanis, yaitu menggunakan corong lampu yang bagian dalamnya diberi minyak tanah. Kemudian, corong ini ditutupkan pada kumbang. Kumbang akan terbang dan melekat pada minyak goreng. Selain cara tersebut, dapat pula disemprot dengan pestisida alami. p, Lembing atau kumbang epilachna [Epilachna sparse Hrbst f. vigintioctopunctata (Boisd).

Kumbang epilachna ada yang menjadi predator dan ada yang menjadi hama. Kumbang yang menjadi predator mempunyai bercak berupa garis dan sedikit bentuk bulat, sedangkan kumbang yang menjadi hama berbercak bulat. Kumbang maupun larvanya memakan daun. Daun yang diserang akan kelihatan kerangkanya saja. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terganggu, Ialu tanaman menjadi kerdil dan buah berukuran kecil.

Beberapa cara pengendalian kumbang epilachna yakni sebagai

1) Secara mekanis, telur, larva, dan kumbang dewasa ditangkap dan dimatikan.

2) penyebaran musuh alami, yaitu sejenis tabuhan (Iebah)

3) Penanaman dilakukan pada musim kemarau karena kumbang ini akan berhenti bertelur pada musim tersebut.

4) Dilakukan rotasi tanaman.

Lalat buah (D. dorsalis) akan menusuk buah dan meletakkan telur di dalam buah. Lubang bekas tusukan sering ditumbuhi cendawan sehingga buah menjadi busuk. Bila buah tersebut dibelah, akan terlihat larva lalat buah. Serangan lalat buah D. pedestris akan memperlihatkan bergak-bercak lunak dengan warna lebih tua atau hitam pada buah. Bila diiris, kelihatan didalamnya ada larva Ialat (belatung, berenga).

Lalat buah dapat dikendalikan dengan cara sebagai berikut :

1) Jika serangan belum hebat, buah dipanen untuk dikonsumsi. Jika serangan telah hebat, buah dipetik dan dibakar.

2) Lalat jantan ditangkap dengan .nenggantung alat perangkap. Perangkap tersebut berUpa botol minuman mineral yang ujungnya dibalik, bagian dalam diberi kapas yang telah diberi cairan daun selasih.

Waktu Penanaman dan Pemeliharaan Terung Organik

Setelah umur 4 minggu, bibit di pesemaian dipindah ke lapang. Bibit dalam kotak pesemaian dicabut secara hati-hati dengan bantuan solet agar akarnya tidak rusak. Jika wadah pesemaian dari daun, bibit ditanam beserta wadahnya. Jika wadahnya kantong plastik, bibit beserta medianya dikeluarkan dari wadahnya.

Setelah itu, bibit ditanam dalam lubang tanam yang telah disiapkan. Beri tanah di kiri dan kanan bibit, kemudian ditekan perlahan lahan agar bibit dapat berdiri dengan kuat. Setelah selesai penanaman, bibit disiram dan ditutup dengan pelepah pisang, daun dracaena, daun kelapa, atau bambu untuk mengurangi penguapan.

Cara Pemeliharaan

Agar tumbuh subur, setiap hari tanaman terung harus diperhatikan dan dirawat. beberapa perawatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Penyiraman dan pengairan

Apabila tanah kering, tanaman segera disiram. Bila dekat dengan saluran irigasi, lahan dapat dileb (digenangi) sebatas tinggi bedengan. Penggenangan lahan ini jangan terlalu lama.

b. Pemberian mulsa

Pemberian mulsa berupa dedaunan atau jerami digunakan bila bedengan tidak diberi mulsa PHP. Pemberian mulsa ini bertujuan untuk mencegah penguapan sehingga tanaman tidak kekeringan.

c. Penyulaman (penyisipan)

Tanaman yang mati, kerdil, dan tidak sehat segera diganti dengan tanaman baru supaya seragam perkembangannya. Akan tetapi, tanaman yang mati karena penyakit menular tidak perlu diganti karena tanaman baru bisa tertular.

d. Pemasangan turus (penopang)

Turus atau penopang diperlukan untuk menopang tanaman agar tidak roboh pada saat berbuah. Pemasangan turus dilakukan sedini mungkin agar tidak merusak perakaran. Turus dapat dibuat dari bambu atau kayu. Ukuran lebar bambu atau diameter kayu 4 cm dan panjang t 100 cm. Pemasangan turus pada bedengan yang menggunakan mulsa PHP perlu hati-hati agartidak menusuk atau merusak mulsa.

e. Penyiangan dan penggemburan

Penyiangan gulma diperlukan agar tanaman dapat menyerap unsur hara yang diberikan. Pada saat penyiangan ini, biasanya dilakukan juga pengggemburan tanah agar aerasi (pertukaran udara) dalam tanah tetap baik.

f. Perempelan (pengambilan tunas)

Perempelan pada tanaman terung ada dua macam, yaitu perempelan tunas dan perempelan bunga. Tunas di ketiak daun pertama sampai tunas di bawah bunga yang kedua dirempel. Tujuannya agar percabangan yang terbentuk tidak terlalu di bawah.

Perempelan dilakukan sedini mungkin, sebelum tunas membesar. Perempelan bunga dilakukan pada bunga pertama. Biasanya setelah perempelan, bunga selanjutnya akan tumbuh dengan cepat.

g. Pemupukan Tanaman dapat diberi pupuk dari limbah ternak bila penanamannya menggunakan mulsa PHP. Kalau terlalu pekat, pupuk tersebut diencerkan dengan penambahan air bersih. Tanaman yang tidak menggunakan mulsa dapat dipupuk kembali dengan pupuk kandang atau kompos. Pemupukan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 1,5 -2 bulan.

Cara Bertanam Terung Secara Organik

Tahapan ketika memulai menanam terung secara organik tidak berbeda jauh dengan tanaman Iainnya. Tanaman terung pun dapat ditanam secara polikultur dengan sawi, selada, atau tanaman lain yang tidak satu famili. Tahapan penanamannya adalah sebagai berkut:

1. Penyiapan Benih dan Pembibitan

Untuk memudahkan perawatan benih, tanaman terung sebaiknya disemai Iebih dahulu. Pesemaian terung ini seperti pesemaian selada, baik wadah maupun caranya. Tempat pesemaian sebaiknya di bawah naungan untuk mengurangi penguapan dan di atas para-para untuk menghindari gangguan binatang atau genangan air.

2. Pengolahan Tanah dan Pembuatan Bedengan

Teknik pengolahan Iahan sama dengan pengolahan untuk tanaman selada maupun wortel. Setelah gembur dan dibiarkan terkena sinar matahari, tanah dibuat bedengan. Ukuran bedengan dapat disesuai dengan Iahan, misalnya 90-200 cm x 5-15 m. Tinggi bedengan dapat dibuat 15-20 cm, tetapi jika tanah sering tergenang air, tinggi bedengan dapat dibuat 50 cm. Apabila menggunakan mulsa plastik hitam perak (PHP), Iebar bedengan sebaiknya dibuat 90-100 cm, disesuaikan dengan Iebar mulsa.

Mulsa PHP telah banyak digunakan dalam budi daya karena memberikan keuntungan seperti dapat menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, mencegah erosi, dan dapat mengusir aphid. Walaupun demikian, penggunaan mulsa PHP akan menambah biaya produksi dan biaya tenaga kerja.

3. Penentuan Jarak Tanam dan Pemupukan

Jarak tanam yang digunakan sekitar 60-70 cm x 60-70 cm. Untuk memudahkan pembuatan lubang tanam, dapat digunakan ajir. Apabila menggunakan mulsa PHP, setelah diberi tanda letak lubang tanam, mulsa dilubangi dengan menggunakan kaleng berdiameter 10-15 cm yang berisi arang panas. Apabila penanamannya secara polikultur dengan sawi atau selada maka tanaman terung dapat ditanam 2 atau 3 baris dalam satu bedengan.

Pola penanamannya dapat Anda Iihat’pada gambar berikut ini! Setiap hektare diperlukan pupuk kandang atau kompos sekitar 30 ton atau 1 kg per lubang tanam. Pupuk tersebut disebar di atas bedengan atau dimasukkan ke lubang tanam. Kemudian, pupuk dicampur rata dengan tanah di bawahnya. Setelah pemupukan, bedengan dapat disiram dengan air limbah ternak atau air septic tank.

Bertanam Terung Secara Organik Varietas dan Syarat Tumbuh

Pada umumnya, buah terung banyak dimanfaatkan untuk sayuran, namun ada juga beberapa varietasnya yang dipergunakan untuk obat-obatan dan untuk menjarangkan kelahiran (kontrasepsi). Bentuk dan ukuran. buah terung juga bermacam-macam, tergantung varietasnya. Oleh karena itu, perlu kiranya mengetahui varietes terung yang tumbuh di Indonesia sebelum memulai menanamnya.

A. Varietas Terung

Terung (Solarium melongena L.) termasuk dalam famili Solanaceae. Tanaman yang pertama kali dikembangbiakkan di India ini mempunyai tiga varietas, yaitu:

1) Solarium melongena var. escu/entum Bailey

Varietas ini umumnya disebut terung. Buahnya berbentuk bulat telur; memanjang; ujungnya tumpul; dan berwarna putih, putih kekuningan, putih kehijauan, hijau muda, hijau tua, atau ungu.

2) Solanum melongena var. serpentinum Bailey Terung ini juga disebut terung ular karena panjang dan menyerupai ular. Buahnya bergaris tengah :t 2,5 cm dengan panjangnya 3O 40 cm, bagian ujung biasanya membengkok, dan berwarna ungu.

3) Solanum melongena var. depressum Bailey Varietas ini dikenal juga sebagai terung bulat ungu atau terung maya. Sosoknya berupa semak pendek, bercabang banyak yang mendatar. Buahnya berbentuk bulat, berwarna ungu saat masih muda dan kuning setelah tua.

Selain ketiga varietas di atas, ada tanaman yang sosoknya mirip dengan terung, hanya buahnya berukuran kecil dan banyak. Tanaman tersebut dikenal dengan nama cepokak atau tekokak (Solanum torvum Swartz). Buah tekokak dapat dilalap maupun dimasak untuk sayur. Batangnya Kadang digunakan untuk batang bawah sambungan terung dan tomat.

Ada jenis terung yang mempunyai manfaat untuk Kontrasepsi, yaitu terung KB (Solanum Iaciniatum den 5. viculare). Terung ini dapat dipergunakan sebagai kontrasepsi karena mengandung persenyawaan solasodin sekitar 2,0 3,5°/o. Buahnya berukuran kecil dengan garis tengah sekitar 12 cm, berwarna hijau kekuningan.

B. Syarat Tumbuh

Agar tumbuh dengan baik, tanaman terung yang telah disebutkan di atas perlu ditanam di tempat yang sesuai, baik iklim maupun keadaan tanahnya.

1. Syarat lklim

Tanaman terung akan berproduksi baik jika mendapatkan panas yang cukup lama, suhu 2230° C, dan pengairan yang cukup baik. Jika suhu di atas 33° C, bunga akan rontok. Demikian jUga bila suhu 18 21° C, produksi akan kurang baik. Kurangnya matahari dan banyaknya hujan dapat menyebabkan tanaman kurus dan mudah terserang hama serta penyakit.

2. Syarat Tanah Keadaan tanah yang ideal untuk penanaman terung, yaitu tanah yang remah, Iempung berpasir, dan cukup bahan organik. Dengan keadaan tersebut biasanya aerasi dan drainasenya baik, tidak mudah tergenang air. Sebenarnya terung dapat ditanam di segala jenis tanah, asal cukup bahan organik. Keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk tanaman terung sekitar 6,0 6,5.